Megengan, Tradisi Kampung Kami Menyambut Ramadhan

Adzan maghrib berkumandang merdu di Masjid Al-Mu’thi, menandai hari yang hampir berganti malam. Terlihat masyarakat kampung berbondong-bondong menuju masjid membawa asahan mereka masing-masing. Apakah asing dengan kata asahan? Kami mengenal asahan sebagai makanan dalam wadah nampan yang dibawa untuk kenduri. Hari ini, Kamis dan Jumat besok terasa cukup spesial bagi masyarakat kampung kami yang masih mengikut trasidi jawa yang kental. Di penghujung Bulan Sya’ban ini, masyarakat kampung kami biasa mengadakan kenduri bersama di masjid, kami mengenalnya sebagai tradisi megengan. Ya, tidak hanya kampung kami saja yang mengadakan megengan, kampung-kampung lain di daerah kami kompak melakukan hal yang sama.
Continue reading “Megengan, Tradisi Kampung Kami Menyambut Ramadhan”

Sudah Sarjana, Lalu Mau Apa?

Hari Minggu lalu tentu menjadi momentum yang penuh kebahagiaan bagi sebagian kawan-kawan saya di kampus (Uin Maliki Malang). Ya, penantian panjang mereka akhirnya terbayar lunas. Wisuda, atau sering di-pleset-kan menjadi wis udah, membuat mereka bersorak sorai riang gembira menikmati hari pertamanya kala resmi menyandang gelar sarjana. Memakai baju toga yang gagah dan kece abis, didampingi keluarga tercinta, berfoto penuh gaya dengan sahabat setia. Ah, rasanya memang hari wisuda layak dijadikan sebagai salah satu hari yang paling membahagiakan dalam hidup. Hari itu seakan selesai sudah tugas berat menjadi mahasiswa yang telah ditempuh setidaknya 4 tahun lamanya, atau bahkan lebih. Menguras tenaga, fikiran, materi, emosi, dan masih banyak lagi. Sungguh, menjadi seorang sarjana merupakan perjuangan yang tidak mudah, bahkan tidak semua orang bisa. Guyonan teman-teman saya dulu, “kuliah itu, masuk sulit, keluar sulit”. Mungkin ada benarnya. Alhamdulillah, sarjana yang dinantikan itu, kini telah tiba. Bahagia sekali. Saya tidak bohong, setidaknya saya pun pernah merasakan hal serupa.
Continue reading “Sudah Sarjana, Lalu Mau Apa?”

Penampakan Sosok Misterius Warnai Pemagaran Gaib di Lumajang

Jumat malam, kurang lebih pukul 20.30, smartphone saya bergetar tanda ada panggilan masuk. Muncul nama sahabat seperguruan di Malang sedang memanggil. Karena sedang menghadiri acara penting, terpaksa panggilan itu saya reject. Beberapa menit kemudian, pesan WA muncul dari nama yang sama, “Ris, sabtu besok tolong ke Malang ya, usahakan bisa. Kita diminta menemani Ustadz Bayu ke Lumajang, ada sekolah angker yang perlu pemagaran gaib”. Tanpa pikir panjang, pesan itu saya iyakan. Tanpa ada permintaan pun, saya memang sudah ada rencana sowan ke Malang.

Singkat cerita, Hari Minggu ba’da ashar kami benar-benar berangkat menemani Ustadz Bayu dari Malang ke Lumajang. Perkiraan sampai di lokasi jam 8 malam. Agenda hari itu memang cukup menyeramkan, terutama bagi orang penakut seperti saya. Ustadz Bayu bercerita, ada salah satu sekolah dasar di Lumajang yang mengalami kejadian aneh. Aneh disini adalah ada suatu kejadian yang sulit untuk dinalar oleh logika manusia normal. Cerita lebih lengkapnya, nanti ketika sampai di lokasi agar langsung diceritakan oleh sang empunya sekolah. Continue reading “Penampakan Sosok Misterius Warnai Pemagaran Gaib di Lumajang”

Tentang Gontor, Man Jadda Wa Jada Bukanlah Mitos

“Pak, Jadi bagaimana acara kita besok?” tanya saya penasaran. “Begini, besok Mas Fauzan ngisi acaranya seharian, acara kita mulai jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Kalau ditempatkan di laboratorium, mungkin kurang kondusif, jadi workshopnya kami tempatkan di hotel milik Unida saja”, jawab beliau meyakinkan. Mendengar kata ‘hotel’, pikiran saya melayang ke mana-mana. Yang saya tahu, sarana yang tersedia di hotel identik dengan kenyamanan dan kemewahan. Persis seperti rapatnya para pejabat. Maklum, orang desa seperti saya amat jarang punya acara di hotel.  Apalagi langsung dijadikan pemateri workshop. Ah, pasti keren sekali, unimaginable.

“Lho mas, jangan bengong saja, ayo makanannya segera disantap”, ajakan Pak Kaprodi membuyarkan lamunan. Malam itu, kami yang baru saja tiba dari Kota Malang disambut hangat oleh Pak Kaprodi dan Sekjur Teknik Informatika, Unida Gontor.  Alih-alih diajak keluar ngopi, kami malah ditraktir jamuan makan malam di salah satu warung makan yang terhitung mewah di Kota Madiun. Benar-benar sambutan yang berkesan. Kami bercerita banyak hal penuh keakraban, rasanya seperti sudah bertahun-tahun tak bertemu. Beliau berdua memang bukan sosok asing, sejarah mencatat bahwa beliau berdua pernah mengajar kami di kampus UIN Maliki Malang. Alhamdulillah, di kampus yang baru, ternyata beliau berdua diberikan amanah menjadi petinggi. Sebagai sesama alumni UIN Maliki, tentu ada rasa bangga. Apalagi bisa menjadi petinggi di Gontor, tempat yang dikenal sebagai rahim lahirnya generasi cerdas di tanah air.
Continue reading “Tentang Gontor, Man Jadda Wa Jada Bukanlah Mitos”

Ketika Kekuatan Gaib Kalahkan Teknologi Drone

Akhirnya, drone baru milik Pusat Studi Peradaban (PSP) Universitas Brawijaya terbang tinggi dengan gagah di langit Araya. Sore itu, saya dan beberapa teman PSP melakukan uji terbang untuk pertama kalinya menggunakan drone merk ternama yang baru saja dibeli. Saya kira cukup murah, drone tipe standar dengan harga 6 jutaan, namun kualitas mirip tipe profesional. Memang beberapa tahun belakangan, drone memiliki penggemar yang cukup banyak, entah itu untuk peliputan hingga sebatas hobi. Wajar bila dimanapun itu, terutama ditempat-tempat yang memiliki pemandangan bagus, mudah kita jumpai keberadaan drone disana. Mengambil gambar dari ketinggian memang memunculkan sensasi memukau. Sensasi itulah yang coba dimunculkan oleh teman-teman PSP, pastinya menarik jika situs-situs peninggalan sejarah dapat mereka abadikan dari ketinggian, terutama situs percandian. Pengambilan gambar dari ketinggian adalah bagian dari upaya pembuatan film pendek untuk profil candi tertentu. Kreatif.
Continue reading “Ketika Kekuatan Gaib Kalahkan Teknologi Drone”

Rakyat Jelata Menyikapi Kasus Ahok dan Habib Rizieq

Beberapa bulan terakhir, Gubenur DKI Jakarta non aktif, Basuki Tjahaya Purnama atau yang akrab disapa Ahok dan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab sepertinya menjadi tokoh yang paling banyak disorot mewarnai jagad pemberitaan tanah air. Beliau berdua bak lakon yang memainkan peranan penting terkait kasus dugaan penistaan agama islam. Pak Ahok sebagai terlapor yang diduga menista agama islam dan Habib Rizieq selaku pelapor yang mengharapkan penista agama islam dikenai jeratan hukum. Bersamaan dengan itu, Surat Al-Maidah ayat 51 pun mendadak viral. Masyarakat yang sebelumnya mungkin ‘jarang mengaji’ seakan berlomba-lomba mencari tahu, apa sebenarnya makna ayat itu. Walhasil, perbedaan pendapat terkait penafsiran ayat pun beredar luas. Banyak orang awam tiba-tiba berubah menjadi ahli tafsir Al-Qur’an yang garang. Banyak dari mereka yang saling tuding, saling serang dan saling menyalahkan satu sama lain terutama yang memiliki pendapat berbeda terkait pemaknaan ayat tersebut. Mereka yang pro Pak Ahok dengan berbagai dalil akan menyalahkan yang kontra Pak Ahok, begitu pula sebaliknya.

ternyata-pembela-ahok-goblok
Ahok dan Habib Rizieq (sumber : habibrizieq.co)

Bersambung…

Dimas Kanjeng dan Fenomena Masyarakat ‘Sakit’

Selasa malam kemarin, sengaja saya menyaksikan acara TV yang memang saya sukai sejak lama dan selalu saya nanti-nantikan, Indonesia Lawyer Club (ILC). Acara ini menyajikan diskusi hangat bersama para pakar dan tokoh nasional untuk membahas masalah yang lagi hangat di tanah air, biasanya topik yang diangkat adalah masalah yang kontroversial. Tak jarang, topik yang dibahas memunculkan argumentasi pro kontra yang berkelas, berdasarkan opini maupun data dan fakta dari para narasumbernya. Sangat layak dinikmati sambil nyeruput kopi. Namun entah mengapa selasa kemarin, ILC hanya menyajikan rekaman ulang topik mengenai masalah Dimas Kanjeng. Itu rekaman lama yang di-record sekitar awal oktober lalu, beberapa hari sejak beliau dijemput paksa dari singgasananya. Kasusnya amat pelik, penipuan ribuan pengikut dan pembunuhan. Padahal beliau sama pengikutnya sudah dinobatkan menjadi raja besar dengan spesialisasi keahlian sebagai pengganda uang. Ah, andaikan dia juga bisa menggandakan cinta. Eh sorry, keceplosan.

Awalnya, saya kurang berminat untuk mengikuti acara hingga akhir. Toh, topik yang dibahas itu-itu saja. Namun, suasana ILC mulai terlihat menarik ketika beberapa tokoh yang diundang saling beradu argumen. Saya kira hampir seluruh tokoh beropini kontra terhadap Dimas Kanjeng. Kecuali salah seorang tokoh yang mungkin hingga kini selalu istiqomah membela Dimas Kanjeng, tanpa ia mempedulikan ketokohan ataupun keprofesorannya. Ya, akrab disapa Marwah Daud. Banyak dari kita barangkali menyayangkan, bagaimana bisa seorang akademisi hebat lulusan luar negeri percaya begitu saja dengan apa yang dilakukan Dimas Kanjeng. Rupanya beliau punya alasan lain.
Continue reading “Dimas Kanjeng dan Fenomena Masyarakat ‘Sakit’”